Kajian Ramadan: Ustadz Saidul Amin Bahas Spirit Ramadan Momen Hijrah Diri Jadi Lebih Baik

Sabtu, 21 Februari 2026

PEKANBARU - Masjid Annur Provinsi Riau, memberikan ruang kepada umat muslim untuk memperdalam kajian ilmu agama, terlebih saat bulan Ramadan, kerap dilaksanakan beragam tabligh akbar. Seperti halnya yang berlangsung pada Sabtu (21/2/2026) pagi.

Kajian pagi tersebut memberikan semangat kebersamaan dan nilai-nilai keislaman yang bisa menjadi pengingat diri untuk mengejar keberkahan Bulan Ramadan.

Pertemuan tersebut diikuti jemaah dari berbagai kalangan. Dalam kajian itu, menghadirkan Ustaz Dr H Saidul Amin yang membahas terkait “Spirit Ramadan Momen Hijrah Diri Menjadi Lebih Baik”.

Ustaz Dr H Saidul Amin menyampaikan ceramah mendalam mengenai spirit dan nilai-nilai Ramadan. Ia mengatakan, Ramadan bukan sekadar ibadah rutin tahunan, tetapi juga merupakan metode pendidikan spiritual oleh Allah SWT untuk melatih manusia dalam berbagai aspek kehidupan.

"Ramadan adalah madrasah ruhaniyah, sekolah bagi jiwa kita. Allah SWT mengajarkan kita melalui metode peran langsung dalam kehidupan. Ketika kita berbicara tentang kemiskinan, kita harus merasakan bagaimana lapar itu menyakitkan. Begitu pula saat membahas kehausan, kita harus tahu bagaimana rasanya benar-benar haus. Dengan puasa, kita ditempa untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan," ucap Ustadz Saidul Amin.

Ia menegaskan bahwa Ramadan adalah lautan ilmu yang penuh dengan hikmah dan pelajaran. Dia menambahkan, ada empat konsep utama yang dapat dipetik dari ibadah puasa yaitu liberalisasi, humanisasi, transendensi, dan yurisdiksi.

Puasa sebagai liberalissi adalah suatu yang membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsu. Ustadz Saidul Amin menjelaskan, bahwasanya ada anggapan dari sebagian orang bahwa Islam mengekang kebebasan manusia dengan mewajibkan puasa, padahal puasa justru merupakan bentuk pembebasan. Sebab dengan berpuasa, manusia belajar menahan diri dan mengontrol keinginan berlebihan. Sehingga, mampu mengendalikan hidup dengan lebih baik.

"Ada yang beranggapan bahwa puasa adalah bentuk penindasan karena melarang makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Padahal, menurut Prof. Dr. Hamka, puasa justru adalah sarana pembebasan manusia dari penjajahan hawa nafsu. Jika nafsu dibiarkan menguasai manusia, maka manusia akan menjadi budak dari keinginannya sendiri," tegasnya.

Kemudian, yang kedua adalah bagaimana puasa memanusiakan manusia atau humanisasi. Ramadan melatih seseorang untuk lebih peduli terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang beruntung.

Ia mencontohkan bagaimana seekor kucing yang dirawat dengan baik masih bisa mengenali pemiliknya meskipun telah dipindahkan jauh dari rumah. Namun, ada manusia yang justru melupakan jasa dan kebaikan orang lain dalam sekejap.

"Ketika kita merasakan lapar, kita akan lebih memahami penderitaan orang-orang yang kelaparan setiap hari. Inilah yang membangun empati dan kepedulian sosial dalam diri kita. Jika manusia kehilangan kemanusiaannya, ia bisa lebih buruk daripada binatang," kata Ustadz Saidul Amin.

Selanjutnya, ia menerangkan tentang puasa sebagai transendensi, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ramadan mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia selalu berada dalam pengawasan Allah. Dengan memahami hal ini, manusia akan semakin takut berbuat dosa, baik di bulan Ramadan maupun di luar bulan suci ini.

"Ketika kita berpuasa, kita bisa saja diam-diam makan dan minum tanpa diketahui orang lain, tetapi kita tidak melakukannya karena kita sadar bahwa Allah melihat segala sesuatu. Inilah yang disebut dengan muraqabatullah, kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita," terangnya.

Lalu yang terakhir yaitu yurisdiksi, ia menuturkan bagaimana puasa berperan dalam membersihkan diri dari dosa-dosa. Ustadz Saidul Amin mengingatkan bahwa salah satu bentuk syirik adalah menduakan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia memberikan contoh bagaimana seseorang yang setia kepada pasangannya akan merasa sakit hati jika dikhianati, begitu pula Allah SWT yang tidak ingin disekutukan dengan hal lain dalam ibadah dan kehidupan manusia. 

Puasa memiliki kekuatan untuk menghapus dosa, kecuali dosa syirik. Oleh karena itu, kita harus memperbanyak ibadah dan amal baik di bulan ini agar mendapatkan ampunan dari Allah SWT," imbuhnya.